Mt Agung, Bali, From Lembongan

Mount Agung. In Indonesian, Gunung Agung and in  Balinese: ᬕᬸᬦᬸᬂ​ᬅᬕᬸᬂ is an active volcano in Bali and is the highest point on the island. Recorded eruptions happened in 1843 and in 1963 when one of the largest and most devastating eruptions in Indonesia’s history happened. In late 2017, the area also experienced 844 volcanic earthquakes.
Gunung Agung. Dalam bahasa Indonesia, Gunung Agung dan dalam bahasa Bali: ᬕᬸᬦᬸᬂ​ᬅᬕᬸᬂ adalah gunung berapi aktif di Bali dan merupakan titik tertinggi di pulau ini. Letusan yang tercatat terjadi pada tahun 1843 dan pada tahun 1963 ketika salah satu letusan terbesar dan paling dahsyat dalam sejarah Indonesia terjadi. Pada akhir tahun 2017, wilayah tersebut juga mengalami 844 kali gempa vulkanik.

Balinese myths say that Mount Agung was born from a fragment of the holy Mountain Meru, which was thought to be the connection between heaven and earth. The islands of Java, Bali, and Lombok were all thought to have been given a fragment of the mountain to stabilise them spiritually.
Mitos masyarakat Bali mengatakan bahwa Gunung Agung lahir dari pecahan Gunung Meru yang suci, yang dianggap sebagai penghubung antara langit dan bumi. Pulau Jawa, Bali, dan Lombok semuanya dianggap telah diberi pecahan gunung untuk menstabilkan spiritual mereka.

The mountains are known to be the dwellings of the gods and that Mahadewa, the highest manifestation of Lord Shiva, lives in Mount Agung.
Gunung-gunung dikenal sebagai tempat tinggal para dewa dan Mahadewa, manifestasi tertinggi Dewa Siwa, tinggal di Gunung Agung.

Balinese people believe that the flow of water from north to south, or kaja and kelod, is at its purest at its source and the most chaotic the closer to the sea it gets. Therefore, everything in Balinese life is oriented according to the kaja-kelod axis. Buildings, temples, prayer and even the way the head should point when sleeping is planned according to this.
Masyarakat Bali percaya bahwa aliran air dari utara ke selatan, atau kaja dan kelod, paling murni sumbernya dan paling kacau jika semakin dekat dengan laut. Oleh karena itu, segala sesuatu dalam kehidupan masyarakat Bali berorientasi pada poros kaja-kelod. Bangunan, candi, tempat sembahyang dan bahkan cara kepala menunjuk ketika tidur direncanakan sesuai dengan ini.

Living in the Joglo I would wake early up to the sight of Mount Agung and would watch the light, with my Kopi in hand, play over its slopes as dawn turned to day.
Tinggal di Joglo, saya bangun pagi-pagi untuk melihat pemandangan Gunung Agung dan menyaksikan cahaya, dengan Kopi di tangan, bermain-main di lerengnya saat fajar berganti siang.

Mount Agung is majestic and seeing it across the water from Lembongan is a memory and feeling that I will never forget.
Gunung Agung sungguh megah dan melihatnya di seberang perairan Lembongan adalah kenangan dan perasaan yang tidak akan pernah saya lupakan.

Pastels on Paper
Pastel di atas Kertas

Contact Me To Purchase
$US50 Unframed + P&P
I accept Paypal

Hubungi Saya Untuk Membeli
$US50 Tanpa Bingkai + P&P
Saya menerima Paypal

Leave a comment